Penyerahan kesepakatan bersama dalam Focus Group Discussion (FGD) Pra Standardisasi Kompetensi Teknis Kepemanduan Wisata Gunung di Cikole, Lembang, Jawa Barat. Kesepakatan ini menjadi langkah kolaboratif dalam memperkuat standar keselamatan, kompetensi, dan profesionalisme pemandu wisata gunung Indonesia.
Ditulis oleh Abby
Lembang, Jawa Barat — Gunung-gunung Indonesia bukan hanya menjadi simbol keindahan alam, tetapi juga ruang pembelajaran, petualangan, penelitian, dan pengembangan ekonomi masyarakat. Setiap tahun, ribuan hingga jutaan orang datang untuk menikmati pesona pegunungan Nusantara.
Namun, di balik keindahan tersebut, terdapat satu hal fundamental yang menjadi perhatian utama: Keselamatan.
Kesadaran akan pentingnya standar keselamatan dalam aktivitas wisata alam menjadi fokus utama dalam Focus Group Discussion (FGD) Pra Standardisasi Kompetensi Teknis Kepemanduan Wisata Gunung yang diselenggarakan pada 29–30 Mei 2026 di kawasan Cikole, Lembang, Jawa Barat.
Kegiatan ini mempertemukan berbagai unsur yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan wisata gunung Indonesia, mulai dari praktisi wisata alam, instruktur keselamatan, organisasi profesi, hingga lembaga pelatihan. Forum ini menjadi ruang kolaborasi untuk merumuskan arah standar kompetensi nasional bagi para pemandu wisata gunung di Indonesia.
Berbeda dari forum diskusi konvensional yang berlangsung di ruang pertemuan formal, kegiatan ini dilaksanakan langsung di alam terbuka—lingkungan yang menjadi ruang kerja sekaligus medan tantangan nyata bagi para pemandu wisata gunung.
Di bawah tenda sederhana dengan suasana pegunungan, para peserta berdiskusi secara intens hingga malam hari, membahas berbagai aspek yang berkaitan langsung dengan keselamatan dan profesionalisme kepemanduan wisata alam.
Pembahasan mencakup berbagai kompetensi teknis penting, seperti survival, navigasi darat, pertolongan pertama gawat darurat (PPGD), vertical rescue, manajemen risiko, serta penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam aktivitas wisata alam.
Bagi para peserta, keselamatan bukan sekadar aturan administratif atau bagian dari proses sertifikasi profesi. Lebih dari itu, keselamatan merupakan bentuk tanggung jawab untuk memastikan setiap orang dapat menikmati alam dengan aman, terarah, dan penuh kesadaran.
Diskusi yang dimoderatori oleh Eva Krista H. berlangsung aktif dengan pertukaran pengalaman lapangan dari berbagai peserta. Beragam situasi nyata, mulai dari keberhasilan penanganan kondisi darurat hingga evaluasi terhadap insiden di kawasan pegunungan, menjadi bahan pembelajaran bersama dalam membangun sistem keselamatan yang lebih baik.
Salah satu narasumber, Alfina Mukamar, menyampaikan bahwa perkembangan wisata alam Indonesia perlu diiringi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang memiliki kompetensi jelas dan terukur.
“Wisata alam Indonesia terus berkembang. Karena itu, kualitas sumber daya manusia harus berkembang lebih cepat. Standar kompetensi menjadi instrumen penting untuk memastikan setiap wisatawan mendapatkan pelayanan yang aman, profesional, dan bertanggung jawab,” ujar Alfina.
Menurutnya, meningkatnya minat masyarakat terhadap pendakian gunung dan wisata petualangan membawa peluang besar bagi sektor pariwisata serta masyarakat sekitar kawasan wisata.
Namun, pertumbuhan tersebut juga menghadirkan tantangan baru: kebutuhan akan pemandu yang tidak hanya memahami jalur dan medan, tetapi juga memiliki kemampuan teknis, kemampuan mitigasi risiko, serta keterampilan penyelamatan ketika menghadapi kondisi darurat.
Oleh karena itu, forum ini tidak hanya membahas masa depan profesi kepemanduan wisata gunung, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya keselamatan publik dalam industri pariwisata alam Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah organisasi turut memberikan dukungan terhadap proses penyusunan standar kompetensi nasional kepemanduan wisata gunung. Hasil kesepakatan kemudian diserahkan kepada Asosiasi Pemandu Wisata Bakti Pertiwi sebagai bagian dari penguatan standar profesi pemandu wisata di Indonesia.
Kolaborasi ini melibatkan berbagai pihak, di antaranya:
- Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) yang diwakili oleh M. Novriza
- 3S Management yang diwakili oleh Rafael
- LPK Elang Khatulistiwa Indonesia yang diwakili oleh Achmad Dumiyati
Sinergi lintas organisasi tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan budaya keselamatan membutuhkan keterlibatan bersama. Tidak ada satu pihak yang dapat berjalan sendiri dalam menciptakan sistem wisata alam yang aman, profesional, dan berkelanjutan.
Lebih jauh, penyusunan standar kompetensi kepemanduan wisata gunung merupakan investasi strategis bagi masa depan pariwisata Indonesia.
Sebab, daya tarik sebuah destinasi bukan hanya diukur dari keindahan alamnya, tetapi juga dari kemampuan negara dalam memberikan rasa aman dan pengalaman terbaik bagi setiap wisatawan.
Ketika wisatawan merasa aman menjelajahi pegunungan Indonesia, yang terbangun bukan hanya sebuah perjalanan yang berkesan, tetapi juga kepercayaan terhadap Indonesia sebagai destinasi wisata alam yang profesional dan berstandar global.
Dengan hadirnya standar kompetensi kepemanduan wisata gunung, Indonesia sedang mengambil langkah penting untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia, melindungi masyarakat, serta menjaga warisan alam Nusantara.
Sebuah langkah besar yang dimulai dari gunung-gunung Indonesia, untuk masa depan wisata alam yang lebih aman dan terpercaya.

