Oleh: Tim Media Elang Khatulistiwa Indonesia
25 Oktober 2023
Jakarta – Upaya pemerintah dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) pariwisata dan ekonomi kreatif yang kompeten terus mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Salah satunya datang dari Yayasan Elang Khatulistiwa Indonesia yang turut berpartisipasi dalam Konvensi Nasional Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bidang Pariwisata Tahun 2023.
Kegiatan yang berlangsung di Jakarta pada 24 Oktober 2023 tersebut mempertemukan para pemangku kepentingan dari berbagai sektor untuk menyusun dan menyempurnakan standar kompetensi kerja di bidang pariwisata. Forum ini menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, akademisi, praktisi, hingga organisasi masyarakat yang memiliki perhatian terhadap pengembangan kualitas SDM pariwisata nasional.
Dalam kegiatan tersebut, Elang Khatulistiwa Indonesia bergabung bersama sejumlah organisasi dan komunitas pemerhati geowisata, di antaranya Masyarakat Geowisata Indonesia (MGI), Pemandu Geowisata Indonesia (PGI), UNESCO Global Geopark Rinjani, UNESCO Global Geopark Ciletuh, Pelabuhan Ratu, Universitas Pakuan Bogor, serta berbagai pelaku industri dan akademisi lainnya. Mereka terlibat aktif dalam pembahasan Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (RSKKNI) untuk bidang pemanduan geowisata.

Founder Yayasan Elang Khatulistiwa Indonesia, Abby, menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM menjadi kebutuhan mendesak seiring meningkatnya permintaan terhadap layanan wisata yang profesional dan berstandar tinggi.
“Industri pariwisata membutuhkan SDM yang kompeten dan berkualitas, khususnya di sektor geowisata. Tingginya permintaan terhadap layanan wisata yang profesional harus diimbangi dengan peningkatan kompetensi para pelaku di lapangan agar mampu menghadirkan pengalaman wisata yang aman, edukatif, dan berkualitas,” ujarnya.
Sebagai organisasi yang fokus pada pengembangan masyarakat dan percepatan peningkatan kualitas SDM, Elang Khatulistiwa Indonesia menilai penyusunan standar kompetensi merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekosistem pariwisata nasional. Standar yang jelas akan menjadi acuan bagi para pemandu wisata untuk menjalankan tugas secara profesional dengan mengutamakan aspek pelayanan, keamanan, dan keselamatan wisatawan.
Menurut Abby, standar kompetensi juga akan memberikan kepastian terhadap kualitas layanan yang diberikan oleh para pemandu geowisata. Dengan demikian, wisatawan dapat memperoleh pengalaman yang lebih baik sekaligus meningkatkan daya saing destinasi wisata Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.

Pandangan serupa disampaikan oleh perwakilan Sahabat Elang Indonesia, Andi Sukendi. Ia menyebut konvensi nasional tersebut merupakan tahapan penting dalam rangkaian penyusunan RSKKNI yang sebelumnya telah melalui berbagai proses diskusi, kajian, dan pelibatan para pemangku kepentingan.
“Kami hadir untuk memberikan masukan dan pemikiran dalam penyusunan standar kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri. Harapannya, standar yang dihasilkan dapat menjadi landasan yang kuat dalam meningkatkan profesionalisme, keterampilan, pengetahuan, dan sikap kerja para pemandu geowisata,” kata Andi.

Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, saat membuka Konvensi Nasional Rancangan SKKNI 12 Bidang Pariwisata di Jakarta menegaskan bahwa penguatan kompetensi SDM merupakan bagian penting dalam pembangunan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Menurutnya, SKKNI menjadi instrumen penting dalam mengukur serta memastikan kompetensi tenaga kerja sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. Standar tersebut juga berfungsi sebagai pedoman dalam pengembangan kompetensi dan peningkatan kualitas layanan di industri pariwisata.
Sandiaga menjelaskan bahwa proses penyusunan SKKNI memerlukan tahapan yang panjang dan melibatkan banyak pihak. Pada tahun 2022, penyusunan mencakup 14 bidang pariwisata dengan waktu pengerjaan sekitar empat bulan. Sementara pada tahun 2023, penyusunan dilakukan terhadap 12 bidang pariwisata yang terbagi dalam dua tahap pelaksanaan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim perumus, organisasi profesi, akademisi, serta para pemangku kepentingan yang telah berkontribusi dalam proses penyusunan standar kompetensi tersebut.
Melalui keterlibatan aktif berbagai pihak, termasuk komunitas dan organisasi masyarakat seperti Elang Khatulistiwa Indonesia, diharapkan lahir standar kompetensi yang mampu menjawab kebutuhan industri sekaligus mendukung terwujudnya SDM pariwisata Indonesia yang unggul, profesional, dan berdaya saing global.

